<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Lama dan Baru</title>
	<atom:link href="http://parapemikir.com/lama-dan-baru.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://parapemikir.com/lama-dan-baru.html</link>
	<description>Philosophy &#124; Logic &#124; Epistemology &#124; Science &#124; Religion</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 17:28:44 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
	<item>
		<title>By: wawan</title>
		<link>http://parapemikir.com/lama-dan-baru.html/comment-page-1#comment-1666</link>
		<dc:creator>wawan</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 18:58:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://parapemikir.com/?p=205#comment-1666</guid>
		<description>kalau saya melihat titik perbedaan antara hukama dan mutakallimin tentang Alam ini baru atau alam ini qadim adalah: apakah ada fatrah atau masa antara pada waktu Tuhan Ada dan Adanya alam ini.yang mengatakan tidak adanya fatrah antara keduanya adalah para hukama, sehingga mereka condong untuk mengatakan bahwa alam ini qadim. sementara yang mengatakan ada fatrah antara tuhan dan momen penciptaan makhluk pertama mereka adalah mutakallimin, hingga mereka berasumsi bahwa alam ini baru. cuma sekarang  yang menjadi pertanyaan( buat mutakkalimin) adalah: kenapa tuhan tatkala dia Ada tidak langsung  menciptakan alam ini? Bukankah tuhan itu Maha tahu dan maha kreatif? para mutakallimin menjawab : bahwa sejak zaman azali dan sampai momen penciptaan makhluk yang pertama Ada, Tuhan masih sendiri. menurut Muktazilah dan Karamiyyah ketiadaan makhluk sebelum momen itu adalah karena Tuhan pada waktu itu masih mustahil untuk melakukan penciptaan (mumtani&#039; alaih). sementara menurut Asyairah dan Kullabiyyah mengatakan bahwa: ketiadaan makhluk sebelum momen itu adalah karena Iradah azaliyah Tuhan masih mustahil mewujudkan hasilnya (mumtaniun minhu). 
jadi konsukwensi logisnya menurut muktazilah adalah: Tuhan di zaman azali belum mampu untuk mencipta lalu tiba-tiba Dia bisa mencipta pada saat penciptaan pertama. sedangkan menurut Asyairah di zaman azali iradah tuhan belum mampu mewujudkan hasil ciptaannya tiba-tiba ia bisa mewujudkan pada saat penciptaan yang pertama. 
dari kesemua argumen mutakallimin ini mereka berangkat pada sebuah kaedah: adanya sesuatu yang rajih tapi tidak ada yang merajihkannya ( tarjih bila murajjih ) kaedah inilah yang di tenarkan oleh al gazhali dalam kitabnya tahfut al falasifah. 
tetapi dari argumen para mutakallimin diatas sering dijadikan celah bagi para hukama untuk meruntuhkan pondasi ilmu kalam, yang kata para pegiatnya adalah sebagai tameng akidah islam. sehingga Ibnu taimiyah ikut berkomentar : &quot; fala islama nasharuhu wala adhuwwa kassaruhu&quot; ( islam tidak berhasil mereka bela, dan musuhpun tidak berhasil mereka kalahkan )</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kalau saya melihat titik perbedaan antara hukama dan mutakallimin tentang Alam ini baru atau alam ini qadim adalah: apakah ada fatrah atau masa antara pada waktu Tuhan Ada dan Adanya alam ini.yang mengatakan tidak adanya fatrah antara keduanya adalah para hukama, sehingga mereka condong untuk mengatakan bahwa alam ini qadim. sementara yang mengatakan ada fatrah antara tuhan dan momen penciptaan makhluk pertama mereka adalah mutakallimin, hingga mereka berasumsi bahwa alam ini baru. cuma sekarang  yang menjadi pertanyaan( buat mutakkalimin) adalah: kenapa tuhan tatkala dia Ada tidak langsung  menciptakan alam ini? Bukankah tuhan itu Maha tahu dan maha kreatif? para mutakallimin menjawab : bahwa sejak zaman azali dan sampai momen penciptaan makhluk yang pertama Ada, Tuhan masih sendiri. menurut Muktazilah dan Karamiyyah ketiadaan makhluk sebelum momen itu adalah karena Tuhan pada waktu itu masih mustahil untuk melakukan penciptaan (mumtani&#8217; alaih). sementara menurut Asyairah dan Kullabiyyah mengatakan bahwa: ketiadaan makhluk sebelum momen itu adalah karena Iradah azaliyah Tuhan masih mustahil mewujudkan hasilnya (mumtaniun minhu).<br />
jadi konsukwensi logisnya menurut muktazilah adalah: Tuhan di zaman azali belum mampu untuk mencipta lalu tiba-tiba Dia bisa mencipta pada saat penciptaan pertama. sedangkan menurut Asyairah di zaman azali iradah tuhan belum mampu mewujudkan hasil ciptaannya tiba-tiba ia bisa mewujudkan pada saat penciptaan yang pertama.<br />
dari kesemua argumen mutakallimin ini mereka berangkat pada sebuah kaedah: adanya sesuatu yang rajih tapi tidak ada yang merajihkannya ( tarjih bila murajjih ) kaedah inilah yang di tenarkan oleh al gazhali dalam kitabnya tahfut al falasifah.<br />
tetapi dari argumen para mutakallimin diatas sering dijadikan celah bagi para hukama untuk meruntuhkan pondasi ilmu kalam, yang kata para pegiatnya adalah sebagai tameng akidah islam. sehingga Ibnu taimiyah ikut berkomentar : &#8221; fala islama nasharuhu wala adhuwwa kassaruhu&#8221; ( islam tidak berhasil mereka bela, dan musuhpun tidak berhasil mereka kalahkan )</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: opick</title>
		<link>http://parapemikir.com/lama-dan-baru.html/comment-page-1#comment-1573</link>
		<dc:creator>opick</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 15:51:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://parapemikir.com/?p=205#comment-1573</guid>
		<description>aku rasa meninjau sesuatu itu jangan dari satu sisi saja. di dunia tidak ada sesuatu yang mutlak, kecuali tuhan dan dzatnya. apakah mungkin manuia yang notabene baru, bisa benar-benar tahu asal mula segala kejadian?....., atau adakah janji tuhan bahwa kita dengan kemampuan yang telah di berikan tuhan mampu menelusuri segala kejadian...?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>aku rasa meninjau sesuatu itu jangan dari satu sisi saja. di dunia tidak ada sesuatu yang mutlak, kecuali tuhan dan dzatnya. apakah mungkin manuia yang notabene baru, bisa benar-benar tahu asal mula segala kejadian?&#8230;.., atau adakah janji tuhan bahwa kita dengan kemampuan yang telah di berikan tuhan mampu menelusuri segala kejadian&#8230;?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/


Served from: parapemikir.com @ 2010-09-10 20:48:06 -->